Monitoring dan Evaluasi P2GP: Alimat dan Universitas Hamzanwadi Teguhkan Komitmen Perlindungan Perempuan
Pancor, 18 November 2025 — Alimat bekerja sama dengan Pusat Penelitian dan Pengembangan GEDSI DPPM Universitas Hamzanwadi menyelenggarakan Monitoring dan Evaluasi (Monev) Sosialisasi Bahaya P2GP dalam Perspektif Keagamaan KUPI. Kegiatan yang digelar di Meeting Room Universitas Hamzanwadi ini diikuti para tuan guru, akademisi, serta perwakilan organisasi perempuan untuk memantau implementasi sosialisasi P2GP yang telah dilakukan sebelumnya. Dalam sambutannya, DPPM menegaskan pentingnya memperkuat kolaborasi dan menjadikan isu GEDSI sebagai prioritas riset dan pengabdian kampus, sementara Alimat menekankan urgensi dokumentasi pengalaman lapangan sebagai bagian dari gerakan keadilan bagi perempuan.
Sesi berbagi pengalaman menghadirkan beragam temuan lapangan dari para peserta. Perwakilan Muslimat melaporkan bahwa 48% responden yang mereka temui masih menjalankan praktik sunat perempuan karena dianggap sebagai ajaran agama dan tradisi keluarga. Tuan Guru dan akademisi lain turut menambahkan bahwa praktik lokal yang dikenal dengan sebutan “suci” masih dilakukan secara turun-temurun dan biasanya dipimpin oleh dukun bayi atau pendamping persalinan tradisional. Menindaklanjuti temuan tersebut, MUI Lombok Timur menegaskan empat poin penting: praktik hanya boleh dilakukan secara sangat ringan (tifar), dilarang melakukan pemotongan yang melukai, harus dilaksanakan oleh tenaga medis profesional, dan praktik adat yang berisiko tidak dibenarkan.
Penguatan perspektif advokasi disampaikan oleh Dr. Iklilah Muzayyanah yang memaparkan pentingnya penulisan pengalaman advokasi P2GP sebagai bagian dari gerakan KUPI. Ia menekankan bahwa menulis merupakan “revolusi senyap” yang mampu mengangkat suara perempuan dan mengoreksi relasi kuasa dalam pengetahuan Islam. Selain itu, H. Mohammad Farid Zaini menyoroti pentingnya pengarusutamaan GEDSI di perguruan tinggi, terutama karena ketimpangan gender masih terlihat di tingkat kepemimpinan dan akademik. Ia menegaskan bahwa Universitas Hamzanwadi kini menjadi kampus pertama di Lombok Timur yang memiliki unit GEDSI formal dan sedang dikembangkan sebagai pilot project bersama KONEKSI.
Kegiatan ditutup dengan sesi pelatihan penulisan berperspektif perempuan oleh Prof. Alimatul Qibtiyah yang memberikan teknik menulis narasi advokatif yang kuat, autentik, dan berbasis pengalaman tubuh perempuan. Dengan selesainya rangkaian kegiatan Monev ini, Universitas Hamzanwadi dan Alimat menegaskan komitmen untuk memperkuat perlindungan perempuan dari praktik P2GP melalui pendekatan keagamaan, penelitian, advokasi, dan pendidikan yang inklusif. Kolaborasi ini diharapkan menjadi fondasi penting dalam membangun gerakan perubahan yang lebih luas di Lombok Timur.
